Rabu, 15 Januari 2014

Meski Ada Kista Tetap Berusaha Hamil di Rahim Sendiri

Meski Ada Kista Tetap Berusaha Hamil di Rahim Sendiri, Informasi Inspirasi Pengidap Kista Yang Tetap Memilih Berusaha Hamil di Rahim Sendiri!
Pilihannya cuma dua; kistadi rahimnya diangkat atau berusaha memiliki keturunan dengan memanfaatkan fungsi sel telur di sebelah kanan. Itupun, kemungkinannya fifty-fifty untuk bisa memiliki keturunan.
Bak tersambar petir di siang bolong, Siti Mariyah hanya bisa menunduk tak berdaya ketika mendengar dr. Antony Atmadja, SpOG di Rumah Sakit Mitra Keluarga (RSMK) Bekasi mengatakan bahwa ia mengidap adenomyosis. Hasil pemeriksaan menemukan adanya penetrasi oleh tumbuhnya jaringan endometrium (jaringan yang melapisi dinding dalam rahim) yang membuat sel telur di sebelah kiri rahimnya tertutup. Sementara, sisi lainnya (sebelah kanan) masih berfungsi, namun kurang bagus, sehingga akan sangat berpengaruh pada tingkat kesuburan (infertilitas). Ia masih ingat persis, kala itu tahun 2002. Bahkan, masih terngiang ucapan dr. Antony, yang menyatakan bahwa untuk kasusnya ini, ia harus berhadapan dengan dua pilihan; kista di rahimnya diangkat atau berobat dan berusaha memiliki keturunan dengan memanfaatkan fungsi sel telur di sebelah kanan. “Itupun kemungkinannya fifty-fifty,” kata Siti Mariyah, mengenang. Tak heran, wanita yang menikah pada 6 Januari 2001 ini sempat mutung. Mengapa ia yang harus mengalaminya. Padahal, rasanya tak ada yang tidak beres pada dirinya, ibadah pun dijalaninya secara tekun dan khusuk. “Cobaan atau kutukan macam apa ini?” pikirnya. Tapi syukurlah, ia segera berpikir positif. Siti mengaku pasrah. Selain rutin melakukan kontrol, iapun mulai mengikuti petunjuk dokter agar menghindari makanan junk food dan tidak mengkonsumsi minuman bersoda, hingga akhirnya diputuskan untuk melakukan operasi untuk mengangkat kista yang bercokol di rahimnya.

Gejalanya Sejak Masih Gadis

Seperti diakui Siti Mariyah, sejak masih gadis dulu, panggul sebelah kirinya kerap terasa sakit. Hanya saja, rasa sakit itu tidak terlalu digubris. Dianggap sebagai pegalpegal biasa dan masih bisa dilaluinya. Namun, meski datang dan pergi, penyakit itu tak pernah hilang, bahkan semakin menjadi-jadi saat memasuki masa haid. Kekhawatiran pada keluhannya itu baru “menghantuinya” setelah usia pernikahannya melampaui satu tahun, namun belum juga menunjukkan tanda-tanda kehamilan.*
“Bentuknya seperti gajih (lemak) yang lumayan besar, sekitar setengah botol kecap,” urainya, seraya menjelaskan bahwa pilihan itu merupakan satu-satunya alternatif. Bahkan, ia siap melakukan serangkaian pengobatan agar tetap bisa hamil dengan rahimnya sendiri. Seperti biasa, pada pertengahan tahun 2003, Siti melakukan pemeriksaan rutin kepada dr. Antony. Namun, kabar yang ia terima kali ini luar biasa menggembirakan. Ia positif dinyatakan hamil. “Ini mukjizat yang luar biasa dari Allah SWT,” sergah, M Rohman, penuh suka cita. Sayang, persoalan kembali datang. Menurut dr. Antony, masalah yang menimpa Siti merupakan kasus yang jarang ditemui, bahkan baru pertama kali ditanganinya. Bayangkan, janin dan penyakitnya saling berebut makanan yang masuk dari mulut ibu. Itu sebabnya, meski kehamilannya belum lagi genap sembilan bulan, persisnya baru memasuki usia delapan bulan, dr. Antony memutuskan untuk melakukan operasi sesar. Karena, jika dibiarkan, jabang bayi di dalam rahim Siti tidak akan bisa bertahan lebih lama. Tapi itulah, persoalan kembali muncul. Tensi darah wanita berusia 33 tahun itu berada di posisi 190/140. Angka yang sangat tinggi untuk seorang wanita yang sedang hamil. Apalagi untuk melakukan operasi sesar. Apa boleh buat, tindakan harus segera dilakukan. Tapi, sekali lagi, alhamdulillah. Bayi prematur dengan berat 1.5 kilogram sepanjang 39 centimeter itu lahir ke dunia dengan selamat. Saat ini, Rafly Surya Ramadhan telah berusia 8 tahun. “Sehat, dan tumbuh normal. Tak jauh berbeda dengan anak-anak seusianya,” ujar Siti, bangga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar